Suatu pagi disebuah pertigaan aku melihat dipinggir jalan seorang polisi sedang bernegosiasi dgn seorang pengendara motor dua orang anak sma tidak memakai helm dan motor tidak ada kaca spion kana dan kiri. Kupikir kedua anak SMA tsb kena tilang tetapi ternyata tidak. Beliau seorang polisi yang baik yang tidak asal main tilang. Bliau menegur kedua anak itu dengan baik baik untuk putar balik karena tidak memakai helm. Keliatannya kedua anak SMA tsb tidak berterimakasih malah justru ngotot pengen melanjutkan perjalanannya. Beliau bilang," kalau kamu tetep pengen jalan nanti didepan sana ada temanku pasti kamu kena tilang. Apa kamu punya uang untuk bayar tilangnya". Kulihat kedua anak SMA tsb mulai berpikir dan akhirnya dengan terpaksa mengikuti saran Pak Polisi baik itu memutar balik arah kendaraannya.
Suatu pagi dipertigaan itu juga *tiap hari pertigaan itu selalu kulalui saat berangkat kerja* terlihat Bapak Polisi yang baik itu mencegat seorang wanita muda berambut panjang yg rupanya si wanita tsb tidak memakai helm. Aku tidak begitu jelas mendengar percakapan mereka namun dari gerak tangan si Bapak Polisi beliau meminta si wanita untuk putar balik kendaraanya karena tidak memakai helm.
Andai semua polisi bersikap seperti Bapak Polisi yg baik itu. Tidak asal maen tilang malah justru menasehati si pengendara motor / mobil. Aku yakin kedua anak SMA dan seorang wanita tsb adalah "makanan" empuk bagi si Pak Polisi yg baik itu. Beliau dengan mudah bisa menilang dan mungkin bisa mengambil keuntungan. Tapi hal itu tidak beliau lakukan, beliau memilih cara lain menasehati si pengendara. Saluuuuut buat Pak Polisi baik itu. Beliau tidak mata duitan yang mencari cari kesalahan untuk bisa menilang. Two thumbs for you, Sir. Semoga karir kepolisianmu melesat keatas..
*ditulis dlm rangka kena tilang sabtu kemaren hihihihi*
Wednesday, July 27, 2011
Monday, July 25, 2011
Ibu polah anak kepradah...
Punya tetangga *lagi lagi ngomongin tetangga hihihihihi* yg punya kebiasaan suka ngambil barang orang. Aku pun pernah merasa menjadi korbannya, cincin kawin suamiku diambil dia *baru curigation aja sih *. Ceritanya saat itu rumah baru repot / rame karena acara pemakaman anakku kembarannya Nanda. Beberapa orang termasuk Ibu itu berlalu lalang keluar masuk rumahku untuk menyiapkan segala sesuatu untuk upacara pemakaman. Selang kurleb dua hari setelah acara pemakaman suamiku baru keinget cincin kawinnya yg ditaroh diatas TV. Disamperin tu cincin sudah kagak ada diatas tipi. Kita ingat ingat lagi siapa saja yg keluar masuk rumah saat pemakaman pikiran kita mengarah ke ibu tsb secara track recordnya sdh terkenal dgn msl ambil mengambil. Kita sih ga bisa langsung menuduh si Ibu tsb wong ga ada bukti hanya bisa curigation saja. Akhirnya kita coba ikhlasin saja cincin itu hilang kalau ada uang beli lagi tu cincin. Tapi curigation kita pada si Ibu tsb semakin bertambah saat lebaran tahun itu juga dia datang ke rumah minta maaf kalo dia punya salah. Aku dan suami malah bingung secara dia lebih lebih tua dari kita kok malah dia yg datang dan minta maaf ke kita. Kita hanya bisa menduga duga saja mungkin si Ibu merasa bersalah telah mengambil cincin itu terus minta maaf ke kita.
Nah cerita yg masih fresh tentang Ibu itu adalah dia mengambil dompet suaminya temanku. Ceritanya minggu kemaren aku satu rombongan dgn Ibu itu berkunjung ke temanku yg baru saja pindahan rumah. Ada beberapa ibu ibu dan bapak bapak dalam rombongan tersebut. Sampai rumah temanku memang hanya Ibu tsb yg keluar masuk rumah dengan alasan membantu menghidangkan makanan dan minuman untuk para tamu. Sampai paginya aku kaget sekali saat seorang tetanggaku yg lain mengabari aku kalau dompet suaminya temanku hilang dan diambil si Ibu itu. Saat kutanya siapa yang melihat si Ibu mengambil dompet eh ternyata anak temanku sendiri yg melihat si Ibu masuk kamar yg punya rumah terus ambil dompetnya. Di pikiran si anak si Ibu itu mau tidur dirumahnya jadi si anak mendiamkan saja. Bagaimanapun temanku tidak bisa langsung menuduh si Ibu itu karena bukti sudah tidak ada, andai bisa tertangkap basah mungkin akan lain ceritanya. Tapi sayang ternyata uang didompet hanya lima belas ribu sajah tidak sebanding dgn dosa yg nanti ia akan tanggung. Akhir cerita si Ibu itu mengembalikan dompet itu didepan pintu rumah orang tua temanku tanpa sepengetahuan orang lain.
Yang sangat kusayangkan adalah kenapa si Ibu itu tidak berpikir panjang akan tindakannya. Kenapa tidak berpikir bahwa apa yg dia lakukan akan mengubah rejeki anaknya menjadi sedikit. Adalah temanku juga yang mengajari anak perempuan si ibu tsb untuk membuat keripik tempe trus temanku menjualnya di kantin pabrik tempat suaminya bekerja. Tiap hari selalu ada pesanan keripik tempe untuk dijual di pabrik. Selama ini hanya orderan dari temanku yang menjadi tulang punggung usaha keripik tempe anak ibu tsb. Memang masih ada order lainya tapi tidak sebesar order dari temanku. Order lainnya tidak bisa menjadi tulang punggung dari usahanya. Karena kejadian dompet hilang tsb, temanku tidak mau mengambil keripik tempe dr anak si ibu tsb, temanku memilih supplier lain daripada nanti ada masalah lagi. Kesian si anak Ibu itu, dia tidak berbuat tapi harus menanggung perbuatan Ibunya.
Subscribe to:
Comments (Atom)