Bapak Ibu ku Jogja maen ke kudus pengen nengokin NaGa. Ceritanya malam minggu kita gereja trus langsung meluncur ke ADA untuk makan malam disana.
Sorenya hari minggu ibuku rupanya mencari cari dompetnya. Semua jadi ikutan nyari dompetnya dan tidak ketemu. Kutelepon pihak gereja sapa tau koster / penjaga gereja menemukannya saat bersih - bersih setalam misa selesai. Hasilnya pun nihil...so mungkin dompet ibu jatuh di ADA pas kita makan disana.
Sambil duduk diruang tengah, Ibuku sedikit menggerutu," gara gara Bapak dompetku ilang. Gusti mundut / mengambil duitku sekalian dompetku sisan". "Lah kok bisa Buk," Jawabku. Ternyata oh ternyata sewaktu Ibuku mau memberikan uang persembahan / kolekte kedua untuk pembangunan gereja dicegah Bapakku karena gereja kudus ini bukan gerejanya dimana mereka bernaung. Gereja mereka di Jogja. Oalah oalah Bapakku tercinta ini piye to..wong istrinya punya niatan suci kok malah dihalangi. Ya sud..God takes His way. Uang Ibu hilang sekalian ma dompetnya. Untungnya dompet itu hanya utk menyimpan uang belanja saja tidak ada surat2 penting didalamnya. Terjawab sudah mengapa dompet Ibuku hilang. Akhirnya Ibuku bisa bilang," Aku ikhlas Gusti panjenengan mundut arta kula". Pasrah dah ibukku .
Ini pelajaran bagi ku juga bahwa kalo kita sdh ada niatan utk memberi sesuatu untuk Tuhan, jangan pernah menundanya walopun ada sesuatu ato seseorang yang bisa menghalangi kita untuk melakukannya. Bener juga ada perkataan Tuhan itu bisa cemburu....Yuk kita belajar dr pengalaman ini.
Sunday, September 5, 2010
Thursday, September 2, 2010
Cerita Lebaran
Walau keluargaku sendiri adalah keluarga Nasrani tapi tiap lebaran aku selalu sediain kue2 dan uang salam tempel karena aku punya tamu - tamu kecil hehhehe. Anak - anak tetangga selalu datang ke rumah tiap kali lebaran. Begitu datang langsung salaman, duduk manis sambil ambil kue yg disukai, kalo dah begitu si punya rumah langsung melesat ke kamar ambil beberapa lembar uang dan bagi bagi ke mereka. Untuk anak- anak yang aku ga begitu kenal, aku kasih satu lembar 2 rb perak, bagi anak2 aku kenal dekat aku kasih 5 - 10 ribu perak. Setelah terima uang, mereka biasanya langsung pamit pulang. Yachhhh namanya anak2 ya sudah terima uang ya langsung pulang. But I like the moment..sungguh nikmat bisa berbagi..
Nah cerita lebaran lalu, aku blm pindah rumah masih jadi kontraktor, seperti biasa di hari lebaran ada suara ketukan pintu, tok tok tok...ah itu pasti anak2. Ada 4 orang anak waktu itu yang datang. Kupersilahkan mereka duduk dan aku langsung ke kamar mau ambil uang tempel. Kebetulan waktu itu baru sendirian. Ayah keluar ada urusan sebentar. Kucari cari tu segepok uang tempel kok ga ada dikamar. Kuubek - ubek lemari ga ada, ayah ditelpon ga diangkat2. Karena ke-4 anak itu sdh menunggu akhirnya kuputusin untuk ambil satu lembar 10 ribu didompetku. Kubilang ke anak - anak itu, " ini utk berempat ya ". Setelah berterimakasih, mereka pamit mau pulang.
Hari itu aku merasa anak- anak yang datang kerumahku lebih banyak daripada hari lebaran yang lalu lalu. Sampe ada anak yg ga kukenal sama sekali, datang ke rumah. Ok lah gpp toh bagi2 duitnya cuma setaon sekali.
Sorenya waktu aku beli gula di warung samping rumahku, sipenjual ngomong ke aku," Mba Esti kasih uang wisit ( uang tempel ) ke anak2 kok banyak to ". " Ah enggak kok cuma 2 ribuan saja," jawabku. Si penjual ," Itu tadi Ardi ( salah satu dari 4 anak tsb ) datang kesini menukarkan uang seratus ribu katanya dapat uang wisit dari mba esti. 100 ribu untuk berempat". OMG, aku jadi ngeh kalo aku salah ambil uang..kukira 10 ribu ternyata 100 ribu yg kuambil. Pantesan anak2 yg datang ke rumahku lebih banyak dr biasanya, ternyata oh ternyata Ardi Cs ngomong ke temen2 lainnya kalo uang wisitnya tante esti banyak. Oalah oalah ni mata kok siwer bener. Ya sudah aku ikhlaskan duit 100 ribu itu utk Ardi cs. Itu sudah rejekinya Ardi cs. Akhirnya aku minta ganti ke Ayah hehehhehehe...pantesan ikhlas ya hahahhaha
Nah cerita lebaran lalu, aku blm pindah rumah masih jadi kontraktor, seperti biasa di hari lebaran ada suara ketukan pintu, tok tok tok...ah itu pasti anak2. Ada 4 orang anak waktu itu yang datang. Kupersilahkan mereka duduk dan aku langsung ke kamar mau ambil uang tempel. Kebetulan waktu itu baru sendirian. Ayah keluar ada urusan sebentar. Kucari cari tu segepok uang tempel kok ga ada dikamar. Kuubek - ubek lemari ga ada, ayah ditelpon ga diangkat2. Karena ke-4 anak itu sdh menunggu akhirnya kuputusin untuk ambil satu lembar 10 ribu didompetku. Kubilang ke anak - anak itu, " ini utk berempat ya ". Setelah berterimakasih, mereka pamit mau pulang.
Hari itu aku merasa anak- anak yang datang kerumahku lebih banyak daripada hari lebaran yang lalu lalu. Sampe ada anak yg ga kukenal sama sekali, datang ke rumah. Ok lah gpp toh bagi2 duitnya cuma setaon sekali.
Sorenya waktu aku beli gula di warung samping rumahku, sipenjual ngomong ke aku," Mba Esti kasih uang wisit ( uang tempel ) ke anak2 kok banyak to ". " Ah enggak kok cuma 2 ribuan saja," jawabku. Si penjual ," Itu tadi Ardi ( salah satu dari 4 anak tsb ) datang kesini menukarkan uang seratus ribu katanya dapat uang wisit dari mba esti. 100 ribu untuk berempat". OMG, aku jadi ngeh kalo aku salah ambil uang..kukira 10 ribu ternyata 100 ribu yg kuambil. Pantesan anak2 yg datang ke rumahku lebih banyak dr biasanya, ternyata oh ternyata Ardi Cs ngomong ke temen2 lainnya kalo uang wisitnya tante esti banyak. Oalah oalah ni mata kok siwer bener. Ya sudah aku ikhlaskan duit 100 ribu itu utk Ardi cs. Itu sudah rejekinya Ardi cs. Akhirnya aku minta ganti ke Ayah hehehhehehe...pantesan ikhlas ya hahahhaha
Wednesday, September 1, 2010
Peristiwa Dulu ( Flashback )
Kejadian ini siy dah dulu sekali waktu aku masih SD di Jogja tapi sampe sekarang masih terrecord dimemoryku ini.
Suatu sore aku dan mas ku nomor 3 , kupanggil Mas Lipur sedang maen dihalaman depan. Tiba - tiba ibuku yg sedang memasak didapur memanggil kakakku ," Le, Ibu pundut no / belikan teh..cepet ". Segera kakakku menghampiri Ibu meminta uang dan berlari ke warung nya Mba Yanti. Kakakku pulang dan dengan napas yg masih ngos2an , " Buk, teh cap cepet mboten wonten ( Bu, teh cap cepet ga ada ) ". Hwaaaaaaaaa...aku dan ibuku tertawa sepuasnya. Oalah Le teh cap cepet ga bakalan ana sing dodol...Akhirnya kakakku balik lagi ke warung Mba Yanti utk beli teh yg sebenarnya..
Ada satu lagi kejadian yang membuatku sampe sekarang takut sama kucing terutama anak kucing hiiiiiiiiiiiiiiiiiii...takuttt takuutttt. Ceritanya aku pulang sekolah pagi karena masih kelas 2 sd dan dirumahku sepiiiii sekali. Bapak Ibu kerja, masku dan mbakku masih sekolah semua. Ada adikku tapi dititipkan ke emak ku. Padahal rumahku besarrr ( rumah khas wong jawa ) jadi terasa sereeemm. Waktu mau ambil celana pendek untuk ganti, aku nekad naik sap lemari yg paling bawah. Ndilalah oh ndilalah pas aku naikin lemari itu goyang dan akhirnya tumbang menimpaku. Yang lebih membuatku takut teryata di sap lemari atas, ada beberapa ekor anak kucing yg masih kecil - kecil so anak2 kucing itu jatuh ke badanku juga...aku menangis teriak2 ga ada yg menolong..aduh takutnya aku setengah mati...hiiiiii takut sekali. Ga beberapa lama ada omku datang menolong karena mendengar aku teriak teriak. Maka nya sampe segede tuir ini kalo liat kucing apalagi kucing kecil langsung parno saja...
Ayo sapa lagi yg pengen cerita flashback...silahkan
Suatu sore aku dan mas ku nomor 3 , kupanggil Mas Lipur sedang maen dihalaman depan. Tiba - tiba ibuku yg sedang memasak didapur memanggil kakakku ," Le, Ibu pundut no / belikan teh..cepet ". Segera kakakku menghampiri Ibu meminta uang dan berlari ke warung nya Mba Yanti. Kakakku pulang dan dengan napas yg masih ngos2an , " Buk, teh cap cepet mboten wonten ( Bu, teh cap cepet ga ada ) ". Hwaaaaaaaaa...aku dan ibuku tertawa sepuasnya. Oalah Le teh cap cepet ga bakalan ana sing dodol...Akhirnya kakakku balik lagi ke warung Mba Yanti utk beli teh yg sebenarnya..
Ada satu lagi kejadian yang membuatku sampe sekarang takut sama kucing terutama anak kucing hiiiiiiiiiiiiiiiiiii...takuttt takuutttt. Ceritanya aku pulang sekolah pagi karena masih kelas 2 sd dan dirumahku sepiiiii sekali. Bapak Ibu kerja, masku dan mbakku masih sekolah semua. Ada adikku tapi dititipkan ke emak ku. Padahal rumahku besarrr ( rumah khas wong jawa ) jadi terasa sereeemm. Waktu mau ambil celana pendek untuk ganti, aku nekad naik sap lemari yg paling bawah. Ndilalah oh ndilalah pas aku naikin lemari itu goyang dan akhirnya tumbang menimpaku. Yang lebih membuatku takut teryata di sap lemari atas, ada beberapa ekor anak kucing yg masih kecil - kecil so anak2 kucing itu jatuh ke badanku juga...aku menangis teriak2 ga ada yg menolong..aduh takutnya aku setengah mati...hiiiiii takut sekali. Ga beberapa lama ada omku datang menolong karena mendengar aku teriak teriak. Maka nya sampe segede tuir ini kalo liat kucing apalagi kucing kecil langsung parno saja...
Ayo sapa lagi yg pengen cerita flashback...silahkan
Subscribe to:
Comments (Atom)