Binun mau nulis drmana saat perasaan blm stabil spt ini.
Senin sore dapat kabar dari suami yg sudah dijakarta sebelumnya kalo Bapak tepatnya Bapak mertuaku akhirnya meninggal dunia setelah kritis sehari semalam di Rs Sari Asih, Ciledug karena sirosis. Saat mendengar berita itu sedih dan menangis pastinya hingga Nanda bilang," aku juga sedih kok Buk". Huwaaa tambah nangis kejer aku...
Saat proses pemakaman I can manage my feeling well, everything went smoothly. Tapi saat malam tiba saat mau tidur semua kenangan tentang Bapak hadir dalam pikiranku begitu kuat hingga tumpah ruah segala tangisku. Masih kuingat segala kenangan ini :
- Saat pertama kali aku diajak Ayah sowan ke jakarta bbrp tahun silam saat masih pacaran, Bapak sempat sempatin masak nasi goreng spesial buat aku. Bliau bilang," iki nasi goreng khusus untuk calon mantuku tersayang" Betapa tersanjungnya aku saat itu.
Maafkan aku ya Bapak kalo selama menjadi menantumu, banyak kekurangan disana sini. Belum sempat berbakti padamu penuh.
- Bapak selalu mengingatkan aku dan ayah akan hal hal yg kecil. Pernah bliau telpon hanya sekedar menanyakan kunci rumah sdh diperbaiki blm. Minta lantai rumah dipel setiap hari biar bersih jauh dr kuman karena cucunya suka klesotan dilantai. Kadang diriku merasa jengah karena hal hal kecil diurusi, tapi saat ini aku kangen hpku berdering tertulis disitu " calling Bapak Jakarta ". Aku kangen Bapak hiks hiks...
- Bapak sering banget mengajak diskusi. Dari hal pribadi sampe msl kerjaan. Kebetulan msl kerjaan kita nyambung, bliau pensiunan dr salah satu percetakan kertas negara sedangkan aku kerja buruh dipabrik kertas jadi nyambunglah diskusi kita. Kadang bliau minta aku berhenti mengerjakan pekerjaan rumah hanya untuk mengajak berdiskusi padahal dlm hati pengen cepet cepet kelarin masaknya. Sekarang tidak ada lagi yang akan mengajakku berdiskusi ...
- Bapak yang memodali kami saat kami jadi kontraktor pertama kali. Kami sudah menyakinkan Bapak kalo kita ada uang cukup untuk mengontrak rumah tapi Bapak ga tega melepaskan kita begitu saja. Bliau memaksa kita untuk menerima bantuannya.
Ah Bapak begitu banyak kenangan tentangmu. Kenangan itu akan selalu hidup dihati dan pikiran kami. Akan kami kenang semangat kerja yg kau ajarkan kepada kami.
Kami sdh ikhlas akan kepergianmu disurga seikhlas engkau menjalani sakitmu. Tanpa ada yang menuntunmu Engkau mampu membuat tanda salib tanda kepasrahan total pada kehendak ilahi akan hidupmu saat masa kritis menyerangmu. Aku yakin Tuhan sudah menyediakan rumah yg sangat indah bagimu.
I miss you. We will meet later in heaven.